cerpenku
Lentera Padam
Kini Aku kembali lagi.
Kembali ke tempat yang seharusnya Aku tempati. Awalnya Aku merasa asing di sini Tapi ada satu hal yang
selalu buat Aku bertahan jika berada disini.
Dan hal itu ialah bisa bersama dengan Ibu.
Dia-yang katanya ayahku- memilki beberapa
istri, Ibuku istri pertamanya. Dia tidak pernah mau ceraikan Ibu walaupun Dia
sudah 5 kali menikah lagi. Tiap kali bercerai dengan istri-istri barunya Dia pasti akan kemali pada Ibu dan meminta maaf memita
untuk bisa kembali lagi sama Ibu. Sialnya Ibu selalu memaafkan pria itu.
Aku benci Dia bukan karena ia menikah lagi tapi aku membenci dia
karna tidak pernah ada waktu untukku dan ibu.
Aku anak satu-satu dari Ibuku sedangkan Dia memliki 4 anak lagi dari
istri-istrinya. Ibuku istri sahnya sedangkan yang lainnya hanya simpanan yang pernikahannya tak
pernah didaftarkan. Semua anak Dia tinggal dirumahku.
Aku bingung harus
bilang apa supaya Ibu tak lagi memaafkan Dia dan mengusir semua anak-anaknya
yang selalu buat Aku muak. Ibu menyayangi mereka seperti beliau menyayangiku
dan itu membuat Aku cemburu.
“bu, Nasya sudah putuskan Ibu pindah
ke rumah Nasya”
“tapi bagaiman dengan adik-adik
kamu? Siapa yang akan mengurus mereka kalau Ibu gak ada disini?”
“terus siapa yang akan merawat
Nasya. Ibu, tolong lah jangan buat Aku jadi orang jahat disini, dan mareka
bukan adik-adikku bu. Mereka hanya anak yang Ibu pungut dari pelacur-pelacur Dia
karana kasian” aku menunjuk tepat diwajah
dia.
“Nasya jaga bicaramu, ayahmu ada
disini”
‘hatiku
terasa sakit saat Ibu membentakku lagi, hanya karana aku menunjuk kearah dia ayah mereka’ kulirik
ke arah Dia dan mereka-anak pungut
ibu- yang melihat penuh kekecewaan ke arah ku.
“bu, apa omongan Nasya salah? Kalau Nasya
salah tolong katakan kata-kata Nasya yang mana yang salah menurut Ibu?” aku duduk dengan mengilangkan kakiku hal ini
menegaskan siapa aku dirumah ini.
Kulihat Ibu hanya diam. Kemudia ku lirik kearahnya, wajahnya terlihat memerah
entah karena marah atau karna malu.
“Nasya, Ayah tidak pernah
mengajarkan kamu kata-kata seperti itu”
“memangnya kapan anda pernah
mengajarkan sesuatu pada saya? Bukankah anda selalu bersama dengan
gundik-gundik anda itu”
“kak Nasya cukup, jangan pernah
menghina Ibu kami lagi! Dan jika Ibu mau tinggal sama kak Nasya, kami tidak keberatan kak,
lagian kami sudah bisa jaga diri kami sendiri”
Aku baru sadar kalau mereka memang
sudah hampir semua dewasa hanya tinggal Ika yang masih kelas 1 SMA dan yang
lainnya sudah cukup umur untuk dilepas dari kandang ini. Beberapa hari ini Aku baru tau bahwa semua aset
sudah dipidahkan atas namaku
oleh Ibu. Dan kali ini Aku pulang dengan alasan
perayaan kematian nenek tapi sebenarnya Aku mau mengambil Ibuku kembali.
“wah lihat siapa yang bicara, emm
kamu memang selalu mengejutkan ku. Ohya kuliahmu sudah selesai jadi silahkan
kerja dan pengabdi kepada perusahaan yang telah
membiyai kuliahmu”
“itu kaka gak perlu kwatir tanpa
disuruh pun Aku akan mengabdi disana”
“jadi bu gimana? Apa Ibu mau
tinggal sama Aku atau Ibu mau tinggal dengan mereka?”
Semaunya Diam hingga membuat
suasana menjadi hening.
“oke. kalau Ibu mau tinggal disini
terserah, Ibu taukan Aku sayang Ibu dan mendukung semua keputusan Ibu. Tapi
bu, apakah Ibu tidak
mengarti hati anak Ibu
ini.” Aku berlutut memeluk lutut Ibuku yang sudah terlihat tua. Kurebahkan
kepalaku dipangkuannya yang
sedang duduk disofa.
“Nanya, Ibu tau, kamu sayang Ibu tapi Ibu tidak
suka rumah kamu disana,
Ibu kesepian apalagi kamu akan seamakin sibuk beberapa hari ini,
jadi tolong Nasya ngertiin Ibu,ya”
Keluhan ibu
memang benar aku tinggal sendiri di bungalon itu tapi bagiku itu bukan alsan
yang tepat karena aku sudah janji jika
ibu mau pindah bersamaku aku akan meluangkan waktuku bersama ibu.
“sampai kapan Nasya harus ngertiin Ibu? Nasya
kan sudah bilang semua keputusan Ibu akan Nasya dukung tapi bu Ibu jangan lupa
kalau Nasya bisa buat apa saja untuk mendapatkan apa yang Nasya mau.”
Ku hapus air mata yang
sempat terjatuh tadi. Aku kecewa Ibu memutuskan untuk tidak pergi bersama ku
tapi Aku tidak akan menyerah suatu saat nanti Aku akan bisa bersama Ibu lagi. Aku tau ibu juga meras sedih hanya saja aku terlalu
kecewa dengan keputusan ibu.
Aku bergegas pergi kekamar.
Rencananya malam ini Aku akan langsung pulang ke rumahku sendiri dan berencana menjual rumah
ini dan membuat Ibuku tinggalkan rumah ini dan tinggal bersam Aku. Rumah ini
memang banyak menyimpan masa kecilku dengan Ibu, Aku tidak tega menjualnya tapi
Aku juga tidak mau jika harus kembali kesini karena tempat ini juga menyimpan
masa kelam dalam hidupku.
“Nasya Ibu mohon, jangan membenci Ibu
karena keputusan Ibu ini”
Ibu menghentikan kegiatan packingku.
“Aku tidak pernah membenci Ibu tapi
Aku membenci mereka semua. Asal Ibu tau, selama mereka ada disini
Aku tidak akan merasa
tenang. Ibu tau apa yang ku fikirkan?
‘mereka mengabil ayahku yang dulu, mereka mengambil Ibuku
yang dulu,
bahkan sekarang mereka mau merebut segala hal yang ingin Aku milki’ Aku selalu
ketakutan dengan
pemikiran ku sendiri, bu. Aku takut
jika pemikiranku terus begitu, takutnya aku akan semakin membenci mereka.
Ibu taukan alasan Aku tidak mau kembali ke rumah ini?”
“ya, Ibu tau Nasya”
“tidak, tidak! Ibu tidak tau kalau Ibu
tau Ibu tidak akan melakukan ini padaku” tangisku pecah, Aku merasa sangat
sedih, kali ini Ibu yang ku pikir mengerti Aku malah menganggap masalahku hanya
sesuatu yang tak berarti.
“Ibu tau, apa yang dilakukan Mia
pada ku? Ibu tau apa
yang dilakukan Dion padaku. Dan Ibu malah menikahkan mereka seolah Aku tidak
ada dikeluarga ini. Ibu, Aku ini anakmu,
seharusnya Ibu percaya
dan medukungku seperti Aku mendukung segala keputusan Ibu”
Takku dengar sepatah katapun keluar
dari mulut Ibu. Aku sudah menduganya Ibu pasti tidak bisa menjawab lagi.
“ia Nasya, Ibu yang salah Nasya, Ibu salah” ibu menunduk sembari menahan tangis. Hatiku mulai
luluh melihatya. Pendirianku yang kukuh saat pertama datang menjadi goyah
dengan tangisan ibu.
“Ibu tau bagaimana kau dan Dion dan
Ibu juga tau apa yang sebenarnya terjadi, Ibu tidak pernah mau tau sebarapa
sakitnya hatiku pulang kesini. Setiap Aku harus melihat Dion dan Mia yang
bersama, walaupun Aku tau Dion Cuma menganggap
Mia sebagai istri saja dan tak menciantainya seperti janjinya padaku tapi apa Ibu
tau setiap malamnya Aku berfikir apakah Dion nanti akan meniggalkan ku dan akan
mulai mencintai si Mia itu”
“cukup Nasya, cukup, Ibu tidak bisa
mendengarnya lagi. Ibu minta maaf jika Nasya tersakiti dengan keputusan Ibu. Ibu
hanya takut Mia akan berbuat nekat jika Ibu tidak mau meyakiti perasaan Mia”
“ya Ibu memang menusia yang baik
tapi Ibu tidak sadar Ibu sudah menghancurkan
hati Nasya dan sekarang Nasya tidak mau maaf
dari Ibu, sekarang Ibu ikut
dengan Nasya atau mau tunggal denga mereka. Kalau Ibu mau lihat Nasya kesepian, maka Ibu tinggallah
dini. tapi jika Ibu punya
sedikit saja rasa sayang, atau rasa kasian pun
boleh jika itu bisa mebuat Ibu
ikut bersamaku”
“Nasya dengar Ibu baik-baik. Ibu
sayang Nasya lebih dari apapun dan Ibu mohon ini yang terakhir Ibu minta Nasya
ngerti Ibu”
“baiklah bu. Nasya hargai keputusan
Ibu. Ohya bu Nasya Cuma mau bilang Nasya sudah menjual rumah ini jadi Ibu dan
mereka sudah boleh mencari rumah lain”
“APA! Nasya kamu jangan kelewatan” ibu terlihat sangat marah.
“apa ? kelewatan. Bu, ini rumah nenek dan
nenek sudah mewariskan pada Ibu dan jangan lupa Ibu sudah mengatas namakan
semua harta Ibu atas
namaku”
PLLAAAK!!!!!!!!!!
“Ibu menampar Nasya hanya karena Nasya
mengambil hak Nasya. Ohya bu makssih tamparannya. Nasya kan tunggu Ibu di
rumah. Minggu depan kalian harus pindah dari sini dan minggu depan Aku akan
menyuruh sopir untuk menjemput Ibu jika Ibu pergi dengan sopir itu maka Nasya
akan sangat bahagia”
Aku bergegas pegi meninggalkan Ibu
yang masih menatap tangan kananya. Aku tau Ibu menyesal telah menamparku tapi
hatiku sudah terlanjur sakit. Aku berjalan sambil menghapus air mataku.
“ Nasya tunggu!”
Aku berhenti saat mendengar
panggilan itu karena
Aku tau itu Dion. Dion orang yang paling Aku sayangi setelah Ibu dan nenek.
“kamu mau pulang sekarang?”
“ya”
“Aku antar ya”
“gak usah Aku sudah telpon sopirku
untuk menjemputku disini”
Walaupun ratusan kalo Dion bilang Dia
masih mencintaiku tapi hatiku masih menolak untuk bersamanya walau bagaimanapun Dia sudah
menjadi hak orang lain.
“Nasya tolong jangan buat Aku
semakin menyesalkan keputusanku”
“untuk apa menyesal bukankah kalian
bahagia. Ohya selamat atas hamilnya Mia”
“Nasya tolong ngerti Aku. Semua ini
salah kamu. Kamu yang ninggalin Aku”
“jadi kamu nyalahin Aku atas
ketidaksetiaanmu. O.k baiklah anggap itu salahku tapi kenapa harus Mia bukankah
masih banyak wanita diluar sana. Dan kenapa kamu harus menyiksaku dangan
memperlihatkan kebahagian kalian padaku”
“Nasya semua ini tidak seperti yang
kamu fikirkan, tolong dengar dulu penjelasanku”
“Aku tidak pernah memikirkan apapun
tentang semua itu. Dion lepaskan tanganku Aku mau pulang sekarang dan jangan
pernah muncul lagi dihadapanku”
“Nasya, kumohon jangan membenciku”
Dion memelukku dari belakang
“Aku tidak pernah membencimu. Aku
tau dengan membencimu perasaanku akan semakin tersiksa dan Aku tidak mau merasakan perasaan itu lagi”
Kali ini Aku benar-benar lepas
darinya. Persaanku masih berat untuk melepaskannya tapi Aku sudah terlanjur
janji pada diriku sendiri bahwa aku
akan menjadi wanita kuat, wanita yang tak butuh
lelaki untuk
menemani hidunya.
Casino de Casino de Casino de CA | Dr.MCD
BalasHapusJoin 평택 출장마사지 Dr.MCD 남양주 출장샵 today and experience the benefits of Dr. MCD, the No.1 resource for healing, discovery, and collaboration in 전주 출장마사지 your 청주 출장마사지 life. 밀양 출장안마