aku bingung haru mulai dari mana. kisahku terlalu rumit dan kusut. jika bermula dengan dia maka bagaimana dengan kamu. aku tersesat di jalan setapak mengarungi sungai yang tak berjung. haruskah aku menceritakan hidupku dimulai dari kelahiranku atau atau akan memulai dari saat aku mengenal adanya rasa Cinta.
kami dipertemukan oleh tekdir. ya takdir.
ia datang dengan segudang perjanjian dan akad. banyak gadis mendambakan hal ini terjadi padanya tapi tidak denganku. kami di ikat oleh ikatan yang tak terlihat tapi membuat pengait yang tak bisa lepas.
"apakah kau menyesal ?" ia duduk di samping ranjang.
aku melirinya dari arah cermin riasku.
aku tersenuyum. " penyesalanku takkan berguna. bagiku restu orang tua yang akan menentukan kebahagia kita"
aku menatap sendu padanya.
dia seorang yang baik. hanya saja rasa itu belum tumbuh di hatiku. aku menghormati dia. aku akan melakukan tugasku.
hidup kami biasa saja. hatiku masih mengingat dia. apakah aku berdosa jika hatiku masih untuk dia yang disana. aku telah mengirim undangan ke dia tapi ai tidak datang. disudut hatiku aku menrindukannyanya.
dia ada di negri sebrang dan kami terbentur oleh restu.
ssemoga pilihanku tak salah aku mengorbankancintaku demi kebahagian orang tuaku.
"kau kejam Sya"
"maaf" aku hanya bisa menunduk. " aku tidak berdaya. ini bukan bicara kejam tapi ini bicara tentang senyuman di bibir ibuku"
"ya. demi senyuman ibumu kau mengorbankan senyuman ibuku. ia sangat menyukaimu"
kami kembali hening.
"tidak bisakah sya ini semua di gagalkan?" tanyanya.
ia terlihat sangat frustasi.
"ini bukan keputusanku. bukankah kau tau bagaimana keadaanku"
dia kembali dia. aku tau dia mengeti maksudku. aku menyakitinya sama hal aku juga menyakiti hatiku sendiri.
setetes air mata membasahi pipinya segera ia seka dan dia berdiri dari duduknya. " aku tetap tidak biasa menerima ini semua. aku harap kau akan bahagia walaupun mungkin itu akan sulit. aku tau kamu Sya. dan aku tau kamu juga tersakiti. aku pergi Sya" ucapnya sambil berjalan memunggungi. ia terus berjalan hingga akhirya ia menghilang.
kami dipertemukan oleh tekdir. ya takdir.
ia datang dengan segudang perjanjian dan akad. banyak gadis mendambakan hal ini terjadi padanya tapi tidak denganku. kami di ikat oleh ikatan yang tak terlihat tapi membuat pengait yang tak bisa lepas.
"apakah kau menyesal ?" ia duduk di samping ranjang.
aku melirinya dari arah cermin riasku.
aku tersenuyum. " penyesalanku takkan berguna. bagiku restu orang tua yang akan menentukan kebahagia kita"
aku menatap sendu padanya.
dia seorang yang baik. hanya saja rasa itu belum tumbuh di hatiku. aku menghormati dia. aku akan melakukan tugasku.
hidup kami biasa saja. hatiku masih mengingat dia. apakah aku berdosa jika hatiku masih untuk dia yang disana. aku telah mengirim undangan ke dia tapi ai tidak datang. disudut hatiku aku menrindukannyanya.
dia ada di negri sebrang dan kami terbentur oleh restu.
ssemoga pilihanku tak salah aku mengorbankancintaku demi kebahagian orang tuaku.
"kau kejam Sya"
"maaf" aku hanya bisa menunduk. " aku tidak berdaya. ini bukan bicara kejam tapi ini bicara tentang senyuman di bibir ibuku"
"ya. demi senyuman ibumu kau mengorbankan senyuman ibuku. ia sangat menyukaimu"
kami kembali hening.
"tidak bisakah sya ini semua di gagalkan?" tanyanya.
ia terlihat sangat frustasi.
"ini bukan keputusanku. bukankah kau tau bagaimana keadaanku"
dia kembali dia. aku tau dia mengeti maksudku. aku menyakitinya sama hal aku juga menyakiti hatiku sendiri.
setetes air mata membasahi pipinya segera ia seka dan dia berdiri dari duduknya. " aku tetap tidak biasa menerima ini semua. aku harap kau akan bahagia walaupun mungkin itu akan sulit. aku tau kamu Sya. dan aku tau kamu juga tersakiti. aku pergi Sya" ucapnya sambil berjalan memunggungi. ia terus berjalan hingga akhirya ia menghilang.
aku kembali mentap foto yang tergantung didinding rumaku. ah aku salah ini rumahnya, ya dia yang sekarang imamku. dai sangat mencintaiku. aku sendiri merasa bersalah karena tidak bisa membalas cintanya.
"tidakkah anta lelah menunggu kesiapanku?" tanyaku saat ia sedang berhadapan dengan laptopnya. aku duduk di depannya.
"aku tidak akan lelah Sya. aku imammu dan aku selalu bersedia menunggumu" ia tersenyum padaku.
"aku tau anta oang yang baik dan aku akan mulai memenuhi kewajibanku padamu"
ia kembali tersenyum teduh apdaku. ia melepaskan kaca matanya. aku tau dia hampir sempurna untuk menjadi seorang Imam yang baik untukku.
"tidakkah anta lelah menunggu kesiapanku?" tanyaku saat ia sedang berhadapan dengan laptopnya. aku duduk di depannya.
"aku tidak akan lelah Sya. aku imammu dan aku selalu bersedia menunggumu" ia tersenyum padaku.
"aku tau anta oang yang baik dan aku akan mulai memenuhi kewajibanku padamu"
ia kembali tersenyum teduh apdaku. ia melepaskan kaca matanya. aku tau dia hampir sempurna untuk menjadi seorang Imam yang baik untukku.
Ini kali pertama kamu melakukan sesuatu yang melukaiku. Aku dulu memang salah salah tapi hukuman ini terlalu kejam untuk aku lalui. Ini terlalu menyakitkan. Aku memang belum melupakan dia.
Ini bukan kemuanku. Dia datang kembali bukan aku yang menentukan. Bahkan aku tidak tau jika ia seseorang yang berarti bagimu.
Aku hanya bisa menangis dengan memeluk guling di ranjang yang biasanya kita pakai untuk berdua.
“hai mas. Maaf aku terlambat. Dan maaf aku tidak datang saat pernihan mas” suara itu menggetarkan hatiku. Aku belum tau siapa yang berbicara. Saat ini aku sedang makan malam dengan dia semuamiku tapi kamu di sapa orang lain.
“tidak apa Vian. Mas tau kamu sibuk dengan pendidikanmu. Ohya kenalkan ini istrima” mereka berpelukan. Awalnya aku malas untuk meihat tapi karena orang itu sedang berdiri di belakangku. Hatiku terasa aneh. Ada getaran yang tidak jelas di jantungku.
Mas Seno mengnegurku sedikit. “ eh maa…f” kata-kataku terpotong. Akhy terkejut melihat siapa yang di kenalkan oleh mas seno.
“aku vian” aku masih tak berkedip tau aku masih bisa mendengar kata-katanya. “ saya Ahyana”.
Kenapa dia bersikap seakan tidak mengenaliku. Apa dia sudah melupakan semuanya tentangku. Apa aku tidak berarti baginya. Aku melihat senyuman yang di paksakan.
Aku sudah mengenalnya selama 6 tahun jadi tidak mungkin aku tidak tau tentangnya.
Diawal terlalu manis bahkan kamu memperlakukan aku layaknya ratumu. Kamu menjadikan aku sebagia periotis dalam hidup.
Ini kali pertama kamu melakukan sesuatu yang melukaiku. Aku dulu memang salah salah tapi hukuman ini terlalu kejam untuk aku lalui. Ini terlalu menyakitkan. Aku memang belum melupakan dia.
Ini bukan kemuanku. Dai datang kembali bukan aku yang menentukan. Bahkan aku tidak tau jika ia seseorang yang berarti bagimu.
Aku hanya bisa menangis dengan memeluk guling di ranjang yang biasanya kita pakai untuk berdua.
“hai mas. Maaf aku terlambat. Dan maaf aku tidak datang saat pernihan mas” suara itu menggetarkan hatiku. Aku belum tau siapa yang berbicara. Saat ini aku sedang makan malam dengan dia semuamiku tapi kamu di sapa orang lain.
“tidak apa Vian. Mas tau kamu sibuk dengan pendidikanmu. Ohya kenalkan ini istrima” mereka berpelekan. Awalnya aku malas untuk meihat tapi karena orang itu sedang berdiri di belakangku. Hatiku terasa aneh. Ada getaran yang tidak jelas di jantungku.
Mas Seno mengnegurku sedikit. “ eh maa…f” kata-kataku terpotong. Aky terkejut melihat siapa yang di kenalkan oleh mas seno.
“aku vian” aku masih tak berkedip tau aku amsih bisa mendengar kata-katanya. “ saya Ahyana”.
Kenapa dia bersikap seakan tidak mengenaliku. Apa dia sudah melupakan semuanya tentangku. Apa aku tidak berarti baginya. Aku melihat senyuman yang di paksakan.
Aku sudah mengenalnya selama 6 tahun jadi tidak mungkin aku tidak tau tentangnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar