PLOT DAN PEMPLOTAN
MAKALAH
untuk melengkapi tugasa kuliah
untuk melengkapi tugasa kuliah
Oleh
Ayu Shella (150740006)
Novi Hardiana Putri (150740019)
Zulkhaira (150740005)
Putri Wahyuni (150740022)
Zahara (150740030)
Program Studi Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan
Universitas Malikussaleh
Aceh Utara
2016
KATA PENGANTAR
Syukur alhamdulillah penulis ungkapkan kepada Allah swt. Karena atas
rahmat-Nyalah penulis dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul “Plot dan Pemplotan” tepat
pada waktunya. Selanjutnya, selawat dan salam penulis sanjungkankepada Rasullah
saw. beserta keluarga dan sahabat Beliau yang telah membawa umat manusia dari
alam kebodohan ke alam yang epnuh ilmu pengatahuan.
Dalam menyelesaikan makalah ini alhamdulillah penulis tidak menemukan hambatan. Dalam proses penyusunan makalah ini penulis dibantu oleh
rekan-rekan. Bantuan rekan-rekan sangat membantu dalam setiap menghadapi
permasalahan. Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak
yang telah membantu menfasilitasi bahan pendukung dalam penyusunan makalah ini.
Semoga makalah ini ada manfaatnya khususnya bagi
penulis, umumnya bagi pembaca. Kritik dan saran sangat penulis nantikan demi
perbaikan penyusunan dimasa mendatang.
Terima kasih atas segala perhatiannya.
Aceh Utara, 20 November 2016
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR................................................................................... i
DAFTAR
ISI.................................................................................................. ii
BAB
I PENDAHULUAN.............................................................................. iii
1.1 LatarBelakang....................................................................................... iii
1.2 Rumusan Masalah................................................................................. iii
1.3 Tujuan Penulisan................................................................................... iii
BAB
II PEMBAHASAN............................................................................... 2
2 2.1Hakikat Plot dan Pemplotan................................................................. 2
2 2.2 Peristiwa, Konflik, dan Klimaks.......................................................... 3
2 2.3 Kaidah Pemplotan................................................................................ 3
2 2.4 Penahapan Plot.................................................................................... 4
2 2.5 Pembedaan Plot....................................................................................7
BAB
III PENUTUP....................................................................................... 10
3.1 Kesimpulan.......................................................................................... 10
3.2 Saran....................................................................................................10
DAFTAR
PUSTAKA.................................................................................... 11
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Plot dan pemplotanmerupakan unsur
fiksi yang penting, bahkan tidak sedikit orang menganggap lebih penting dari
unsur fiksi yang lain. Alur mengatur bagaimana tindakan-tindakan harus
bertalian satu sama lain, bagaimana satu peristiwa berhubungan dengan peristiwa
lain, bagaimana tokoh digambarkan dan berperan dalam peristiwa itu yang semuanya
terikat dalam suatu kesatuan waktu. Alur merupakan tulang punggung suatu
cerita, yang menuntun kita memahami keseluruhan cerita dengan segala
sebab-akibat di dalamnya.
1.2 Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar
belakang masalah yang sudah diuraikan di atas, maka permasalahan
yang diangkat adalah :
1.2.1
Bagaimana hakikat plot
dan pemplotan?
1.2.2
Apa yang dimaksud dengan
peristiwa, konflik, dan klimaks dalam prosa fiksi?
1.2.3
Jelaskan tentang kaidah
pemplotan?
1.2.4
Sebutkan dan jelaskan
penahapan plot dalam prosa fiksi?
1.2.5
Sebutkan dan jelaskan
pembedaan plot dalam prosa fiksi?
1.3 Tujuan
Penulisan
Semoga makalah ini ada tujuan
khususnya yaitu penulis, umumnya bagi pembaca. Tujuan umum
bagi pembaca yaitu para pembaca dapat mengatahui cara menilai seorang pembicara
yang baik. Pembaca juga dapat mengetahui
faktor yang mempenyaruhi seorang pemicara dalam menilai pembicara yang lain.
PEMBAHASAN
2.1 Hakikat Plot dan Pemplotan
Beberapa
pengertian menurut para ahli, antara lain:
Stanton (1965:
14), mengemukakan plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap
kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu
disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa lain.
Kenny (1966:
14), mengemukan plot sebagai peristiwa-peristiwayang ditampilkan dalam cerita
yang tidak bersifat sederhana, karena pengarang menyusun peristiwa-peristiwa
itu berdasarkan kaitan sebab akibat.
Forster(1970: 93), plot adalah peristiwa-peristiwa
cerita yang mempunyai penekanan pada adanya hubungan kausalitas.
Penampilan
peristiwa demi peristiwa yang hanya mendasarkan diri dari urutan waktu saja
belum merupakan plot, agar menjadi suatu plot maka peristiwa-peristiwa tadi
harus diolah dan disiasati secara kreatif. Sehingga hasil pengolahan dan
penyiasatan itu sendiri merupakan sesuatu yang indah dan menarik, khususnya
dalam kaitannya dengan karya fiksi yang bersangkutan secara keseluruhan. Sifat
plot misterius dan intelektual menampilkan kejadian-kejadian yang mengandung
konflik yang mampu menarik atau bahkan mencekam pembaca. Sifat misterius plot
tersebut tampaknya tak berbeda kaitannya dengan pengertian suspense, rasa ingin
tahu pembaca. Bahwa unsur suspense merupakan suatu hal yang amat penting di
dalam plot sebuah karya naratif. Unsur inilah, antara lain yang menjadi
pendorong pembaca untuk mau menyelesaikan novel yang dibacanya. Oleh karena itu
plot bersifat misterius, untuk memahaminya diperlukan kemampuan intelektul.
Tanpa disertai adanya daya intelektual, tak mungkin orang dapat memahami plot
cerita dengan baik. Hubungan antarperistiwa, kasus, atau berbagai persoalan
yang diungkapkan dalam sebuah karya, belum tentu ditunjukkan secara eksplisit
dan langsung oleh pengarang.
2.2 Peristiwa, Konflik Dan Klimak
2.2.1 Peristiwa
Peristiwa dapat diartikan sebagai peralihan dari
suatu keadaan ke keadaan yang lain (Luxemburg,1992: 150). Peristiwa dibagi
menjadi 3 tergantung dari mana ia dilihat:
ü
Peristiwa
fungsional adalah peristiwa-peeristiwa yang menentukan dan atau mempengaruhi
perkembangan plot. Urutan-urutan peristiwa fungsional merupakan inti cerita
sebuah karya fiksi yang bersangkutan.
ü
Peristiwa
kaitan adalah peristiwa-peristiwa yang berfungsi mengkaitkan
peristiwa-peristiwa penting dalam pengurutan penyajian cerita.
ü
Peristiwa
acuan adalah peristiwa yang tidak secara langsung berpengaruh dan berhubungan
dengan perkembangan plot, melainkan mengacu pada unsur-unsur lain, misalnya berhubungan
dengan masalah perwatakan atau suasana yang melingkupi batin tokoh.
2.2.2 Konflik
Konflik yang notabene adalah kejadian yang tergolong
penting, merupakan unsur esensial dalam perkembangan plot. Konflik menyaran
pada pengertian sesuatu yang bersifat tidak menyenangkan yang terjadi dan atau
dialami oleh tokoh-tokoh cerita. Konflik adalah sesuatu yang dramatik, mengacu
pada pertarungan antara dua kekuatan yang seimbang dan menyiratkan adanya aksi
dan aksi balasan(Wellek &Warren, 1989:285). Peristiwa dan konflik biasanya
bearkaitan erat, dapat saling menyebabkan terjadinya satu dengan yang lain,
bahkan konflik pun hakikatnya merupakan peristiwa. Bentuk peristiwa dalam
sebuah cerita, dapat berupa peristiwa fisik ataupun batin.
Konflik internal, yaitu:
ü
konflik
fisik adalah sesuatu yang terjadi dengan melibatkan aktivitas fisik, ada
interaksi antara seorang tokoh cerita dengan sesuatu yang diluar dirinya.
ü
koflik
batin adalah sesuatu yang terjadi dalam batin, hati, seseorang tokoh.
Konflik eksternal, yaitu:
ü
konflik
fisik/elemental adalah konflik yang disebabkan adanya benturan antara tokoh
dengan lingkungan alam.
ü
konflik
sosial adalah konflik yang disebabkan adanya kontak sosial antarmanusia atau
masalah yang muncul akibat adanya hubungan antarmanusia.
2.2.3 Klimaks
Klimaks menurut Stanton (1965: 16),
adalah saat konflik telah mencapai tingkat intensitas tertinggi, dan saat (hal)
itu merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari kejadiannya. Dalam sebuah
karya fiksi kita tamui dan rasakan , ternyata sulit menentukan klimaks. Orang
bisa berbeda pendapat dalam menentukan klimaks.
2.3 Kaidah Pemplotan
Masalah kreativitas, kebaharuan, dan
keaslian dapt juga menyangkut masalah pengembangan plot. Pengarang memiliki
kebebasan untuk memilih cara untuk mengembangkan plot, membangun konflik,
menyiasati penyajian peristiwa, dan sebagainya sesuai dengan selera estetisnya.
Dalam usaha pengembangan plot, pengarang juga mamiliki kebebasan kreativitas.
Dalam pemplotan da suatu aturan,
keyentuan, kaidah pengembangan plot (the
laws of plot) yang perlu dipertimbangkan. Tentu saja pertimbangan tersebut
bukan menjadi ‘harga mati’. Sebab, adanya penyimpangan tehadap suatu yang telah
mengkonvensi merupakan suatu yang wajar dalam karya sastra yang tergolong
inkonvensional. Kaidah-kaidah pemplotan yang dimaksud meliputi masalah:
2.3.1 Plausibilitas. Plausibilitas menyaran pada
pengertian suatu hal yang dapat dipercaya sesuai dengan logika cerita.
2.3.2 Suspense. Suspense menyaran pada perasaan
semacam kurang pasti terhadap peristiwa-peristiwa yang akan terjadi, khususnya
yang menimpa tokoh yang diberi rasa simpati oleh pembaca(Abrams, 1981: 138).
Atau, menyaran pada adanya harapan yang belum pasti pada pembaca terhadap akhir
sebuah cerita (Kenny, 1966: 21).
2.3.3 Surprise. Plot sebuah karya fiksi dikatakan
memberi kejutan jika sesuatu dikisahkan atau kejadian-kejadian yang ditampilkan
menyimpang, atau bahkan bertentangan dengan harapan kita sebagai pembaca
(Abrams, 1981:138).
2.3.4 Kesatupaduan. Kesatupaduan menyaran pada
pengertian bahwa berbagai unsur yang ditampilkan, khususnya peristiwa-peristiwa
fungsional, kaitan, dan acuan, yang mengandung konflik, atau seluruh pengalaman
kehidupan yang hendak dikomunikasikan, memiliki keterkaitan satu dengan yang
lain.
2.4 Penahapan Plot
Secara
teoretis –kronologis tahap-tahap pengembangan, atau lengkapnya: struktur plot
dikemukakan sebagai berikut:
2.4.1 Tahapan plot: Awal-Tengah-Akhir
Tahap awal atau tahap perkenalan. Tahap
perkenalan umumnya berisi sejumlah informasi penting yang bekaitan dengan
berbagai tahap tahap berikutnya.fungsi tahap awal ialah untuk memberikan
informasi dan pejelasan seperlunya khususnya yang bekaitan dengan pelataran dan
penokohan.
Tahap tengah atau tahap pertikaian,
menampilkan pertentangan atau konflik. Pada tahap ini menampilkan pertentangan
dan konflik yang sudah mulai dimunculkan pada tahap sebelumnya. Tahap ini pun
konflik menjadi semakin meningkat, semakin menegang. Pada tahap inilah klimaks
ditampilkan.
Tahap akhir atau tahap peleraian:
peleraian tertutup dan penyelesaian terbuka. Tahap pelarian menampilkan adegan
tertentu sebagai akibat klimak. Jadi,
bagian ini kesudahan cerita. Tahap ini juga manyarankan pada hal yang akan
mengakhiri sebuah cerita. Aristoteles membagikan akhir cerita (ending), yaitu: kebahagiaan (happy ending), dan kesedihan (sad ending).
2.4.2 Tahapan plot: Rincian lain
·
Tahap
situation: tahap penyituasian, berisi pelukisan dan pengenalan situasi latar
atau tokoh-tokoh cerita.
·
Tahap
generating circumstances: tahap pemunculan konflik, masalah-masalah dan
peristiwa-peristiwa yang menyulut terjadinya konflik mulai dimunculkan.
·
Tahap
rising action: tahap peningkatan konflik, konflik yang telah dimunculkan pada
tahap sebelumnya semakin berkembang dan dikembangkan kadar intensitasnya.
·
Tahap
climax: tahap klimaks, konflik dan atau pertentangan-pertentangan yang terjadi,
yang dilakui dan atau ditimpalkan kepada para tokoh cerita mencapai titik
intensitas puncak.
·
Tahap
denouement: tahap penyelesaian, konflik yang telah mencapai klimaks diberi
penyelesaian, ketegangan dikendorkan.
2.4.3 Diagram Struktur Plot
Tahap-tahap pemplotan
seperti di atas dapat juga digambarkan dalam bentuk (gambar) diagram. Diagram
struktur yang dimaksud, biasanya, didasarkan pada urutan kejadian atau konflik
secara kronologis. Jadi, diagram itu sebenarnya lebih menggambarkan struktur
plot jenis prgresif-konvensional-teoritis. Misalnya, diagram yang digambarkan
oleh Jones (1968: 32) seperti ditunjukkan di bawah ini.
inciting forces+)
*) **)
pemrcahan
Keterangan
:
*) konflik dimundulkan dan semakin
ditingkatkan.
**)
konflik dan ketegangan di kendorkan
+) inciting forces yaitu menyarankan pada hal yang semakin
meningkatkan konflik sehingga akhirnya mencapai klimaks
2.5 Pembedaan Plot
2.5.1 Pembedaan Plot Berdasarkan Kriteria Urutan
Waktu
Urutan waktu yang
dimaksudkan adalah waktu terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam
karya fiksi yang bersangkutan. Berdasarkan urutan waktu, plot dapat dibedakan
dalam dua kategori yaitu kronologis dan tak kronologis. Yang pertama disebut
sebagai plot lurus, maju atau dapat dinamakan progresif, sedang yang kedua
adalah sorot balik, mundur, flasback, atau juga disebut sebagai regresi. Plot
pada cerpen dikatakan progresif jika pristiwa-pristiwa yang dikisahkan bersifat
kronologis, pristiwa yang pertama diikuti oleh pristiwa-pristiwa yang kemudian.
Selanjutnya sebuah novel dikatakan regresi jika urutan kejadian tidak bersifat
kronologis. Cerita tidak dimulai dari tahap awal, melainkan mungkin dari tahap
tengah atau bahkan tahap akhri, baru kemudian tahap awal cerita dikisahkan.
Ada beberapa macam yaitu:
·
Plot
lurus/progresif. Jika peristiwa-peristiwa yang dikisahkan bersifat kronologis.
A →B→C→D→E
·
Plot
sorot balik/flash-back. Tidak bersifat kronologis, cerita tidak dimulai dari
tahap awal, mungkin dari tahap tengah atau tahap akhir. D1→A→B→C→D2→E
·
Alur
Campuran E→D1→A→B→C→D2
2.5.2 Pembedaan Plot Berdasarkan Kriteria
Jumlah
Karya fiksi yaitu
cerpen yang berplot tunggal biasanya hanya mengembangkan sebuah cerita dengan
menampilkan seorang tokoh utama protogonis yang sebagai hero. Sedangkan plot
sub-subplot sebuah karya fiksi dapat saja memiliki lebih dari satu alur cerita
yang dikisahkan atau terdapat lebih dari seorang tokoh yang dikisahkan
perjalanan hidup, permasalahan, dan konflik yang dihadapinya. Sublot, sesuai
dengan penamannya, hanya merupakan bagian dari plot utama.
·
Plot
tunggal, hanya mengembangkan sebuah cerita.
·
Plot
sub-subplot, memiliki lebih dari satu alur cerita.
2.5.3 Pembedaan Plot Berdasarkan
Kriteria Kepadatan
Plot berdasarkan kriteria kepadatan,
dibedakan menjadi dua bagian, yaitu plot padat atau atau rapat dan plot longgar
dan renggang.
·
Plot
padat, hubungan antarperistiwa terjalin secara erat, dan pembaca seolah-olah
selalu dipaksa untuk terus-menerus mengikutinya. Sebuah cerpen yang berplot padat, ceritanya padat dan
cepat sehingga kurang menampilkan adegan-adegan penyituasian yang
berkepanjangan.
·
Plot
longgar, pergantian antara peristiwa penting berlangsung lambat. plot longgar dalam sebuah
cerpen, pergantian peristiwa demi peristiwa penting berlangsung lambat
disamping hubungan antar peristiwa tersebut pun tidaklah erat benar. Artinya,
antara peristiwa penting satu dengan yang lain disertai oleh berbagai peristiwa
tambahan yang kesemuanya itu dapat memperlambat ketegangan cerita.
2. 5.4 Pembedaan Plot Berdasarkan
Kriteria Isi
Berdasarkan kriteria
isi, dibedakan menjadi tiga golongan besar, yaitu:
·
plot
peruntungan, plot tokohan, plot pemikiran. Plot peruntungan berhubungan dengan
cerita yang mengungkapkan nasib, peruntungan, yang menimpa tokoh yang menjadi
fokus ceirta yang bersangkutan, plot peruntungan dibedakan menjadi enam bagian,
yaitu plot gerak, plot sedih, plot tragis, plot penghukuman, plot sentimental, dan
plot kekaguman.
·
plot
penokohan. Menyaran pada adanya sifat pementingan tokoh-tokoh yang menjadi
fokus perhatian. Plot pembentukan, plot pengujian dan plot kemunduran.
·
plot
pemikiran mengungkapkan sesuatu yang menjadi bahan pemikiran keinginan,
perasaan, berbagai macam obsesi, dan lain-lain. Hal yang menjadi masalah hidup
dan kehidupan manusia. Friedman dalam Nurgiyantoro (2007: 163) membedakan
plot-plot pemikiran ke dalam empat bagian, yaitu plot pendidikan, plot
pembukaan rahasia, plot ajektif, dan plot kekecewaan.
Dalam cerpen biasanya digunakan plot
ketat artinya bila salah satu kejadian ditiadakan jalan cerita menjadi
terganggu dan bisa jadi, tak bisa dipahami.
BAB II
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Salah satu elemen terpenting dalam
membentuk sebuah karya sastra adalah plot cerita. Dalam analisis cerita, plot
sering disebut dengan istilah alur. Dalam pengertiannya yang paling umum, plot
atau alur sering diartikan sebagai keseluruhan rangkaian peristiwa yang
terdapat dalam cerita (Sundari, dalam Fananie, 2000:93).Seorang pengarang dalam
menggerakkan cerita tentu dengan jalan mengalirkan kisah itu melalui peristiwa
demi peristiwa, sehingga jalan cerita dapat dimengerti oleh pembacanya. Jalan
cerita tersebut layaknya disebut alur. Esten (1984:27) mengatakan: “Alur adalah
urutan (sambung-sinambung) peristiwa-peristiwa dalam sebuah cerita
rekaan.”Aminuddin (1987:83) mengatakan: “Alur adalah rangkaian cerita yang
dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang
dihadirkan oleh para pengarang dalam suatu cerita.“ Peristiwa-peristiwa dalam
alur selalu disusun secara logis, seperti yang dikemukakan Sujiman (1988:30)
peristiwa dalam cerita disusun di antaranya: alur linier atau tersusun,
menyajikan rentetan peristiwanya secara temporal.
3.1
Saran
Penulis sadar sebagai manusia biasa penulis tidak luput dari kesalahan.
Saat menulis makalah ini penulis memasukan beberapa pendapat para ahli. Jika
dari pembaca mendapatkan kesalahan dalam makalah ini penulis mohon maaf.
Penulis masih dalam tahap belajar sehingga masih banyak yang harus diperbaiki.
Saran yang mendukung perbaikan makalah ini sangat penulis harapkan.
DAFTAR
PUSTAKA
Nurgiyantoro,
Burhan. 2002.Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada Univercity press.
Luxemburg, Jan van, dkk. 1989. Pengantar Ilmu
Sastra. Jakarta: Gramedia.
Aminuddin. 1987.
Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Malang: CV Sinar Baru.