Kamis, 01 Desember 2016

makalah plot dan pemplotan


PLOT DAN PEMPLOTAN
MAKALAH
untuk melengkapi tugasa kuliah
Oleh

Ayu Shella                     (150740006)
Novi Hardiana Putri      (150740019)
Zulkhaira                       (150740005)
Putri Wahyuni               (150740022)
Zahara                           (150740030)

 






Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Malikussaleh
Aceh Utara
2016



KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah penulis ungkapkan kepada Allah swt. Karena atas rahmat-Nyalah penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Plot dan Pemplotan” tepat pada waktunya. Selanjutnya, selawat dan salam penulis sanjungkankepada Rasullah saw. beserta keluarga dan sahabat Beliau yang telah membawa umat manusia dari alam kebodohan ke alam yang epnuh ilmu pengatahuan.
Dalam menyelesaikan makalah ini alhamdulillah penulis tidak menemukan hambatan. Dalam proses  penyusunan makalah ini penulis dibantu oleh rekan-rekan. Bantuan rekan-rekan sangat membantu dalam setiap menghadapi permasalahan. Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu menfasilitasi bahan pendukung dalam penyusunan makalah ini.
Semoga makalah ini ada manfaatnya khususnya bagi penulis, umumnya bagi pembaca. Kritik dan saran sangat penulis nantikan demi perbaikan penyusunan  dimasa mendatang. Terima kasih atas segala perhatiannya.


Aceh Utara, 20 November 2016

Penulis



DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................. iii
1.1  LatarBelakang....................................................................................... iii
1.2  Rumusan Masalah................................................................................. iii
1.3  Tujuan Penulisan................................................................................... iii
BAB II PEMBAHASAN............................................................................... 2
2          2.1Hakikat Plot dan Pemplotan.................................................................   2
2          2.2  Peristiwa, Konflik, dan Klimaks..........................................................   3
2          2.3  Kaidah Pemplotan................................................................................ 3
2          2.4  Penahapan Plot.................................................................................... 4
2          2.5  Pembedaan Plot....................................................................................7

BAB III PENUTUP....................................................................................... 10
3.1 Kesimpulan.......................................................................................... 10
3.2 Saran....................................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................   11



BAB I
PENDAHULUAN


1.1    Latar Belakang
           Plot dan pemplotanmerupakan unsur fiksi yang penting, bahkan tidak sedikit orang menganggap lebih penting dari unsur fiksi yang lain. Alur mengatur bagaimana tindakan-tindakan harus bertalian satu sama lain, bagaimana satu peristiwa berhubungan dengan peristiwa lain, bagaimana tokoh digambarkan dan berperan dalam peristiwa itu yang semuanya terikat dalam suatu kesatuan waktu. Alur merupakan tulang punggung suatu cerita, yang menuntun kita memahami keseluruhan cerita dengan segala sebab-akibat di dalamnya.

1.2    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang sudah diuraikan di atas, maka  permasalahan yang diangkat adalah :
1.2.1          Bagaimana hakikat plot dan pemplotan?
1.2.2          Apa yang dimaksud dengan peristiwa, konflik, dan klimaks dalam prosa fiksi?
1.2.3          Jelaskan tentang kaidah pemplotan?
1.2.4          Sebutkan dan jelaskan penahapan plot dalam prosa fiksi?
1.2.5          Sebutkan dan jelaskan pembedaan plot dalam prosa fiksi?

1.3    Tujuan Penulisan
Semoga makalah ini ada tujuan khususnya yaitu penulis, umumnya bagi pembaca. Tujuan umum bagi pembaca yaitu para pembaca dapat mengatahui cara menilai seorang pembicara yang baik.  Pembaca juga dapat mengetahui faktor yang mempenyaruhi seorang pemicara dalam menilai pembicara yang lain.

BAB II
PEMBAHASAN


2.1  Hakikat Plot dan Pemplotan
Beberapa pengertian menurut para ahli, antara lain:
Stanton (1965: 14), mengemukakan plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa lain.
Kenny (1966: 14), mengemukan plot sebagai peristiwa-peristiwayang ditampilkan dalam cerita yang tidak bersifat sederhana, karena pengarang menyusun peristiwa-peristiwa itu berdasarkan kaitan sebab akibat.
Forster(1970: 93), plot adalah peristiwa-peristiwa cerita yang mempunyai penekanan pada adanya hubungan kausalitas.
Penampilan peristiwa demi peristiwa yang hanya mendasarkan diri dari urutan waktu saja belum merupakan plot, agar menjadi suatu plot maka peristiwa-peristiwa tadi harus diolah dan disiasati secara kreatif. Sehingga hasil pengolahan dan penyiasatan itu sendiri merupakan sesuatu yang indah dan menarik, khususnya dalam kaitannya dengan karya fiksi yang bersangkutan secara keseluruhan. Sifat plot misterius dan intelektual menampilkan kejadian-kejadian yang mengandung konflik yang mampu menarik atau bahkan mencekam pembaca. Sifat misterius plot tersebut tampaknya tak berbeda kaitannya dengan pengertian suspense, rasa ingin tahu pembaca. Bahwa unsur suspense merupakan suatu hal yang amat penting di dalam plot sebuah karya naratif. Unsur inilah, antara lain yang menjadi pendorong pembaca untuk mau menyelesaikan novel yang dibacanya. Oleh karena itu plot bersifat misterius, untuk memahaminya diperlukan kemampuan intelektul. Tanpa disertai adanya daya intelektual, tak mungkin orang dapat memahami plot cerita dengan baik. Hubungan antarperistiwa, kasus, atau berbagai persoalan yang diungkapkan dalam sebuah karya, belum tentu ditunjukkan secara eksplisit dan langsung oleh pengarang.
2.2 Peristiwa, Konflik Dan Klimak
2.2.1 Peristiwa
Peristiwa dapat diartikan sebagai peralihan dari suatu keadaan ke keadaan yang lain (Luxemburg,1992: 150). Peristiwa dibagi menjadi 3 tergantung dari mana ia dilihat:
ü  Peristiwa fungsional adalah peristiwa-peeristiwa yang menentukan dan atau mempengaruhi perkembangan plot. Urutan-urutan peristiwa fungsional merupakan inti cerita sebuah karya fiksi yang bersangkutan.
ü  Peristiwa kaitan adalah peristiwa-peristiwa yang berfungsi mengkaitkan peristiwa-peristiwa penting dalam pengurutan penyajian cerita.
ü  Peristiwa acuan adalah peristiwa yang tidak secara langsung berpengaruh dan berhubungan dengan perkembangan plot, melainkan mengacu pada unsur-unsur lain, misalnya berhubungan dengan masalah perwatakan atau suasana yang melingkupi batin tokoh.
2.2.2 Konflik
Konflik yang notabene adalah kejadian yang tergolong penting, merupakan unsur esensial dalam perkembangan plot. Konflik menyaran pada pengertian sesuatu yang bersifat tidak menyenangkan yang terjadi dan atau dialami oleh tokoh-tokoh cerita. Konflik adalah sesuatu yang dramatik, mengacu pada pertarungan antara dua kekuatan yang seimbang dan menyiratkan adanya aksi dan aksi balasan(Wellek &Warren, 1989:285). Peristiwa dan konflik biasanya bearkaitan erat, dapat saling menyebabkan terjadinya satu dengan yang lain, bahkan konflik pun hakikatnya merupakan peristiwa. Bentuk peristiwa dalam sebuah cerita, dapat berupa peristiwa fisik ataupun batin.



Konflik internal, yaitu:
ü  konflik fisik adalah sesuatu yang terjadi dengan melibatkan aktivitas fisik, ada interaksi antara seorang tokoh cerita dengan sesuatu yang diluar dirinya.
ü  koflik batin adalah sesuatu yang terjadi dalam batin, hati, seseorang tokoh.
Konflik eksternal, yaitu:
ü  konflik fisik/elemental adalah konflik yang disebabkan adanya benturan antara tokoh dengan lingkungan alam.
ü  konflik sosial adalah konflik yang disebabkan adanya kontak sosial antarmanusia atau masalah yang muncul akibat adanya hubungan antarmanusia.
2.2.3 Klimaks
Klimaks menurut Stanton (1965: 16), adalah saat konflik telah mencapai tingkat intensitas tertinggi, dan saat (hal) itu merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari kejadiannya. Dalam sebuah karya fiksi kita tamui dan rasakan , ternyata sulit menentukan klimaks. Orang bisa berbeda pendapat dalam menentukan klimaks.
2.3 Kaidah Pemplotan
Masalah kreativitas, kebaharuan, dan keaslian dapt juga menyangkut masalah pengembangan plot. Pengarang memiliki kebebasan untuk memilih cara untuk mengembangkan plot, membangun konflik, menyiasati penyajian peristiwa, dan sebagainya sesuai dengan selera estetisnya. Dalam usaha pengembangan plot, pengarang juga mamiliki kebebasan kreativitas.
Dalam pemplotan da suatu aturan, keyentuan, kaidah pengembangan plot (the laws of plot) yang perlu dipertimbangkan. Tentu saja pertimbangan tersebut bukan menjadi ‘harga mati’. Sebab, adanya penyimpangan tehadap suatu yang telah mengkonvensi merupakan suatu yang wajar dalam karya sastra yang tergolong inkonvensional. Kaidah-kaidah pemplotan yang dimaksud meliputi masalah:
2.3.1 Plausibilitas. Plausibilitas menyaran pada pengertian suatu hal yang dapat dipercaya sesuai dengan logika cerita.
2.3.2 Suspense. Suspense menyaran pada perasaan semacam kurang pasti terhadap peristiwa-peristiwa yang akan terjadi, khususnya yang menimpa tokoh yang diberi rasa simpati oleh pembaca(Abrams, 1981: 138). Atau, menyaran pada adanya harapan yang belum pasti pada pembaca terhadap akhir sebuah cerita (Kenny, 1966: 21).
2.3.3 Surprise. Plot sebuah karya fiksi dikatakan memberi kejutan jika sesuatu dikisahkan atau kejadian-kejadian yang ditampilkan menyimpang, atau bahkan bertentangan dengan harapan kita sebagai pembaca (Abrams, 1981:138).
2.3.4 Kesatupaduan. Kesatupaduan menyaran pada pengertian bahwa berbagai unsur yang ditampilkan, khususnya peristiwa-peristiwa fungsional, kaitan, dan acuan, yang mengandung konflik, atau seluruh pengalaman kehidupan yang hendak dikomunikasikan, memiliki keterkaitan satu dengan yang lain.
2.4 Penahapan Plot
            Secara teoretis –kronologis tahap-tahap pengembangan, atau lengkapnya: struktur plot dikemukakan sebagai berikut:
2.4.1 Tahapan plot: Awal-Tengah-Akhir
Tahap awal atau tahap perkenalan. Tahap perkenalan umumnya berisi sejumlah informasi penting yang bekaitan dengan berbagai tahap tahap berikutnya.fungsi tahap awal ialah untuk memberikan informasi dan pejelasan seperlunya khususnya yang bekaitan dengan pelataran dan penokohan.
Tahap tengah atau tahap pertikaian, menampilkan pertentangan atau konflik. Pada tahap ini menampilkan pertentangan dan konflik yang sudah mulai dimunculkan pada tahap sebelumnya. Tahap ini pun konflik menjadi semakin meningkat, semakin menegang. Pada tahap inilah klimaks ditampilkan.
Tahap akhir atau tahap peleraian: peleraian tertutup dan penyelesaian terbuka. Tahap pelarian menampilkan adegan tertentu  sebagai akibat klimak. Jadi, bagian ini kesudahan cerita. Tahap ini juga manyarankan pada hal yang akan mengakhiri sebuah cerita. Aristoteles membagikan akhir cerita (ending), yaitu: kebahagiaan (happy ending), dan kesedihan (sad ending).
2.4.2 Tahapan plot: Rincian lain
·         Tahap situation: tahap penyituasian, berisi pelukisan dan pengenalan situasi latar atau tokoh-tokoh cerita.
·         Tahap generating circumstances: tahap pemunculan konflik, masalah-masalah dan peristiwa-peristiwa yang menyulut terjadinya konflik mulai dimunculkan.
·         Tahap rising action: tahap peningkatan konflik, konflik yang telah dimunculkan pada tahap sebelumnya semakin berkembang dan dikembangkan kadar intensitasnya.
·         Tahap climax: tahap klimaks, konflik dan atau pertentangan-pertentangan yang terjadi, yang dilakui dan atau ditimpalkan kepada para tokoh cerita mencapai titik intensitas puncak.
·         Tahap denouement: tahap penyelesaian, konflik yang telah mencapai klimaks diberi penyelesaian, ketegangan dikendorkan.




2.4.3 Diagram Struktur Plot
Tahap-tahap pemplotan seperti di atas dapat juga digambarkan dalam bentuk (gambar) diagram. Diagram struktur yang dimaksud, biasanya, didasarkan pada urutan kejadian atau konflik secara kronologis. Jadi, diagram itu sebenarnya lebih menggambarkan struktur plot jenis prgresif-konvensional-teoritis. Misalnya, diagram yang digambarkan oleh Jones (1968: 32) seperti ditunjukkan di bawah ini.                                                         
                                                            Klimaks

inciting forces+)
*)                                                                     **)          pemrcahan

Awal                                                       Tengah                                          Akhir
Keterangan :
 *) konflik dimundulkan dan semakin ditingkatkan.
**) konflik dan ketegangan di kendorkan
+) inciting forces yaitu menyarankan pada hal yang semakin meningkatkan konflik sehingga akhirnya mencapai klimaks



2.5 Pembedaan Plot
2.5.1 Pembedaan Plot Berdasarkan Kriteria Urutan Waktu
Urutan waktu yang dimaksudkan adalah waktu terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam karya fiksi yang bersangkutan. Berdasarkan urutan waktu, plot dapat dibedakan dalam dua kategori yaitu kronologis dan tak kronologis. Yang pertama disebut sebagai plot lurus, maju atau dapat dinamakan progresif, sedang yang kedua adalah sorot balik, mundur, flasback, atau juga disebut sebagai regresi. Plot pada cerpen dikatakan progresif jika pristiwa-pristiwa yang dikisahkan bersifat kronologis, pristiwa yang pertama diikuti oleh pristiwa-pristiwa yang kemudian. Selanjutnya sebuah novel dikatakan regresi jika urutan kejadian tidak bersifat kronologis. Cerita tidak dimulai dari tahap awal, melainkan mungkin dari tahap tengah atau bahkan tahap akhri, baru kemudian tahap awal cerita dikisahkan.
Ada beberapa macam yaitu:
·         Plot lurus/progresif. Jika peristiwa-peristiwa yang dikisahkan bersifat kronologis. A →B→C→D→E
·         Plot sorot balik/flash-back. Tidak bersifat kronologis, cerita tidak dimulai dari tahap awal, mungkin dari tahap tengah atau tahap akhir. D1→A→B→C→D2→E
·         Alur Campuran E→D1→A→B→C→D2
2.5.2 Pembedaan Plot Berdasarkan Kriteria Jumlah
Karya fiksi yaitu cerpen yang berplot tunggal biasanya hanya mengembangkan sebuah cerita dengan menampilkan seorang tokoh utama protogonis yang sebagai hero. Sedangkan plot sub-subplot sebuah karya fiksi dapat saja memiliki lebih dari satu alur cerita yang dikisahkan atau terdapat lebih dari seorang tokoh yang dikisahkan perjalanan hidup, permasalahan, dan konflik yang dihadapinya. Sublot, sesuai dengan penamannya, hanya merupakan bagian dari plot utama.
·         Plot tunggal, hanya mengembangkan sebuah cerita.
·         Plot sub-subplot, memiliki lebih dari satu alur cerita.
2.5.3 Pembedaan Plot Berdasarkan Kriteria Kepadatan
Plot berdasarkan kriteria kepadatan, dibedakan menjadi dua bagian, yaitu plot padat atau atau rapat dan plot longgar dan renggang.
·         Plot padat, hubungan antarperistiwa terjalin secara erat, dan pembaca seolah-olah selalu dipaksa untuk terus-menerus mengikutinya. Sebuah cerpen yang berplot padat, ceritanya padat dan cepat sehingga kurang menampilkan adegan-adegan penyituasian yang berkepanjangan.
·         Plot longgar, pergantian antara peristiwa penting berlangsung lambat. plot longgar dalam sebuah cerpen, pergantian peristiwa demi peristiwa penting berlangsung lambat disamping hubungan antar peristiwa tersebut pun tidaklah erat benar. Artinya, antara peristiwa penting satu dengan yang lain disertai oleh berbagai peristiwa tambahan yang kesemuanya itu dapat memperlambat ketegangan cerita.
2. 5.4 Pembedaan Plot Berdasarkan Kriteria Isi
Berdasarkan kriteria isi, dibedakan menjadi tiga golongan besar, yaitu:
·         plot peruntungan, plot tokohan, plot pemikiran. Plot peruntungan berhubungan dengan cerita yang mengungkapkan nasib, peruntungan, yang menimpa tokoh yang menjadi fokus ceirta yang bersangkutan, plot peruntungan dibedakan menjadi enam bagian, yaitu plot gerak, plot sedih, plot tragis, plot penghukuman, plot sentimental, dan plot kekaguman.

·         plot penokohan. Menyaran pada adanya sifat pementingan tokoh-tokoh yang menjadi fokus perhatian. Plot pembentukan, plot pengujian dan plot kemunduran.

·         plot pemikiran mengungkapkan sesuatu yang menjadi bahan pemikiran keinginan, perasaan, berbagai macam obsesi, dan lain-lain. Hal yang menjadi masalah hidup dan kehidupan manusia. Friedman dalam Nurgiyantoro (2007: 163) membedakan plot-plot pemikiran ke dalam empat bagian, yaitu plot pendidikan, plot pembukaan rahasia, plot ajektif, dan plot kekecewaan.
Dalam cerpen biasanya digunakan plot ketat artinya bila salah satu kejadian ditiadakan jalan cerita menjadi terganggu dan bisa jadi, tak bisa dipahami.





BAB II
PENUTUP


3.1 KESIMPULAN
     Salah satu elemen terpenting dalam membentuk sebuah karya sastra adalah plot cerita. Dalam analisis cerita, plot sering disebut dengan istilah alur. Dalam pengertiannya yang paling umum, plot atau alur sering diartikan sebagai keseluruhan rangkaian peristiwa yang terdapat dalam cerita (Sundari, dalam Fananie, 2000:93).Seorang pengarang dalam menggerakkan cerita tentu dengan jalan mengalirkan kisah itu melalui peristiwa demi peristiwa, sehingga jalan cerita dapat dimengerti oleh pembacanya. Jalan cerita tersebut layaknya disebut alur. Esten (1984:27) mengatakan: “Alur adalah urutan (sambung-sinambung) peristiwa-peristiwa dalam sebuah cerita rekaan.”Aminuddin (1987:83) mengatakan: “Alur adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pengarang dalam suatu cerita.“ Peristiwa-peristiwa dalam alur selalu disusun secara logis, seperti yang dikemukakan Sujiman (1988:30) peristiwa dalam cerita disusun di antaranya: alur linier atau tersusun, menyajikan rentetan peristiwanya secara temporal.

3.1      Saran
Penulis sadar sebagai manusia biasa penulis tidak luput dari kesalahan. Saat menulis makalah ini penulis memasukan beberapa pendapat para ahli. Jika dari pembaca mendapatkan kesalahan dalam makalah ini penulis mohon maaf. Penulis masih dalam tahap belajar sehingga masih banyak yang harus diperbaiki. Saran yang mendukung perbaikan makalah ini sangat penulis harapkan.




DAFTAR PUSTAKA

Nurgiyantoro, Burhan. 2002.Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada Univercity press.
Luxemburg, Jan van, dkk. 1989. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: Gramedia.
Aminuddin. 1987. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Malang: CV Sinar Baru.