Jumat, 29 September 2017

cerpen

 cerpenku

Lentera Padam


Kini Aku kembali lagi. Kembali ke tempat yang seharusnya Aku tempati. Awalnya Aku merasa asing di sini Tapi ada satu hal yang selalu buat Aku bertahan jika berada disini. Dan hal itu ialah bisa bersama dengan Ibu.
Dia-yang katanya ayahku- memilki beberapa istri, Ibuku istri pertamanya. Dia tidak pernah mau ceraikan Ibu walaupun Dia sudah 5 kali menikah lagi. Tiap kali bercerai dengan istri-istri barunya Dia  pasti akan kemali pada Ibu dan meminta maaf  memita untuk bisa kembali lagi sama Ibu. Sialnya Ibu selalu memaafkan pria itu.
Aku benci Dia bukan karena ia menikah lagi tapi aku membenci dia karna tidak pernah ada waktu untukku dan ibu. Aku anak satu-satu dari Ibuku sedangkan Dia memliki 4 anak lagi dari istri-istrinya. Ibuku istri sahnya sedangkan yang lainnya hanya simpanan yang pernikahannya tak pernah didaftarkan. Semua anak Dia tinggal dirumahku.
Aku bingung harus bilang apa supaya Ibu tak lagi memaafkan Dia dan mengusir semua anak-anaknya yang selalu buat Aku muak. Ibu menyayangi mereka seperti beliau menyayangiku dan itu membuat Aku cemburu.
“bu, Nasya sudah putuskan Ibu pindah ke rumah Nasya”
“tapi bagaiman dengan adik-adik kamu? Siapa yang akan mengurus mereka kalau Ibu gak ada disini?”
“terus siapa yang akan merawat Nasya. Ibu, tolong lah jangan buat Aku jadi orang jahat disini, dan mareka bukan adik-adikku bu. Mereka hanya anak yang Ibu pungut dari pelacur-pelacur Dia karana kasian” aku menunjuk tepat diwajah dia.
“Nasya jaga bicaramu, ayahmu ada disini”
 ‘hatiku terasa sakit saat Ibu membentakku lagi, hanya karana aku menunjuk kearah dia ayah mereka’ kulirik ke arah Dia dan mereka-anak pungut ibu- yang melihat penuh kekecewaan ke arah ku.
“bu, apa omongan Nasya salah? Kalau Nasya salah tolong katakan kata-kata Nasya yang mana yang salah menurut Ibu?” aku duduk dengan mengilangkan kakiku hal ini menegaskan siapa aku dirumah ini.
Kulihat Ibu hanya diam. Kemudia ku lirik kearahnya, wajahnya terlihat memerah entah karena marah atau karna malu.
“Nasya, Ayah tidak pernah mengajarkan kamu kata-kata seperti itu”
“memangnya kapan anda pernah mengajarkan sesuatu pada saya? Bukankah anda selalu bersama dengan gundik-gundik anda itu”
“kak Nasya cukup, jangan pernah menghina Ibu kami lagi! Dan jika Ibu mau tinggal sama kak Nasya, kami tidak keberatan kak, lagian kami sudah bisa jaga diri kami sendiri”
Aku baru sadar kalau mereka memang sudah hampir semua dewasa hanya tinggal Ika yang masih kelas 1 SMA dan yang lainnya sudah cukup umur untuk dilepas dari kandang ini. Beberapa hari ini Aku baru tau bahwa semua aset sudah dipidahkan atas namaku oleh Ibu. Dan kali ini Aku pulang dengan alasan perayaan kematian nenek tapi sebenarnya Aku mau mengambil Ibuku kembali.
“wah lihat siapa yang bicara, emm kamu memang selalu mengejutkan ku. Ohya kuliahmu sudah selesai jadi silahkan kerja dan pengabdi kepada perusahaan yang telah membiyai kuliahmu”
“itu kaka gak perlu kwatir tanpa disuruh pun Aku akan mengabdi disana”
“jadi bu gimana? Apa Ibu mau tinggal sama Aku atau Ibu mau tinggal dengan mereka?”
Semaunya Diam hingga membuat suasana menjadi hening.
“oke. kalau Ibu mau tinggal disini terserah, Ibu taukan Aku sayang Ibu dan mendukung semua keputusan Ibu.  Tapi bu, apakah Ibu tidak mengarti hati anak Ibu ini.” Aku berlutut memeluk lutut Ibuku yang sudah terlihat tua. Kurebahkan kepalaku dipangkuannya yang sedang duduk disofa.
“Nanya, Ibu tau, kamu sayang Ibu tapi Ibu tidak suka rumah kamu disana, Ibu kesepian apalagi kamu akan seamakin sibuk beberapa hari ini, jadi tolong Nasya ngertiin Ibu,ya”
Keluhan ibu memang benar aku tinggal sendiri di bungalon itu tapi bagiku itu bukan alsan yang  tepat karena aku sudah janji jika ibu mau pindah bersamaku aku akan meluangkan waktuku bersama ibu.
“sampai kapan Nasya harus ngertiin Ibu? Nasya kan sudah bilang semua keputusan Ibu akan Nasya dukung tapi bu Ibu jangan lupa kalau Nasya bisa buat apa saja untuk mendapatkan apa yang Nasya mau.”
Ku hapus air mata yang sempat terjatuh tadi. Aku kecewa Ibu memutuskan untuk tidak pergi bersama ku tapi Aku tidak akan menyerah suatu saat nanti Aku akan bisa bersama Ibu lagi. Aku tau ibu juga meras sedih hanya saja aku terlalu kecewa dengan keputusan ibu.
Aku bergegas pergi kekamar. Rencananya malam ini Aku akan langsung pulang  ke rumahku sendiri dan berencana menjual rumah ini dan membuat Ibuku tinggalkan rumah ini dan tinggal bersam Aku. Rumah ini memang banyak menyimpan masa kecilku dengan Ibu, Aku tidak tega menjualnya tapi Aku juga tidak mau jika harus kembali kesini karena tempat ini juga menyimpan masa kelam dalam hidupku.
“Nasya Ibu mohon, jangan membenci Ibu karena keputusan Ibu ini”
Ibu menghentikan kegiatan packingku.
“Aku tidak pernah membenci Ibu tapi Aku membenci mereka semua.  Asal Ibu tau, selama mereka ada disini Aku tidak akan merasa tenang. Ibu tau apa yang ku fikirkan? ‘mereka mengabil  ayahku yang dulu, mereka mengambil Ibuku yang dulu, bahkan sekarang mereka mau merebut segala hal yang ingin Aku milki’ Aku selalu ketakutan dengan pemikiran ku sendiri, bu. Aku takut jika pemikiranku terus begitu, takutnya aku akan semakin membenci mereka. Ibu taukan alasan Aku tidak mau kembali ke rumah ini?”
“ya, Ibu tau Nasya”
“tidak, tidak! Ibu tidak tau kalau Ibu tau Ibu tidak akan melakukan ini padaku” tangisku pecah, Aku merasa sangat sedih, kali ini Ibu yang ku pikir mengerti Aku malah menganggap masalahku hanya sesuatu yang tak berarti.
“Ibu tau, apa yang dilakukan Mia pada ku? Ibu tau apa yang dilakukan Dion padaku. Dan Ibu malah menikahkan mereka seolah Aku tidak ada dikeluarga ini. Ibu, Aku ini anakmu, seharusnya Ibu percaya dan medukungku seperti Aku mendukung segala keputusan Ibu”
Takku dengar sepatah katapun keluar dari mulut Ibu. Aku sudah menduganya Ibu pasti tidak bisa menjawab lagi.
“ia Nasya, Ibu yang salah Nasya, Ibu salah” ibu menunduk sembari menahan tangis. Hatiku mulai luluh melihatya. Pendirianku yang kukuh saat pertama datang menjadi goyah dengan tangisan ibu.
“Ibu tau bagaimana kau dan Dion dan Ibu juga tau apa yang sebenarnya terjadi, Ibu tidak pernah mau tau sebarapa sakitnya hatiku pulang kesini. Setiap Aku harus melihat Dion dan Mia yang bersama, walaupun Aku tau Dion Cuma menganggap Mia sebagai istri saja dan tak menciantainya seperti janjinya padaku tapi apa Ibu tau setiap malamnya Aku berfikir apakah Dion nanti akan meniggalkan ku dan akan mulai mencintai si Mia itu”
“cukup Nasya, cukup, Ibu tidak bisa mendengarnya lagi. Ibu minta maaf jika Nasya tersakiti dengan keputusan Ibu. Ibu hanya takut Mia akan berbuat nekat jika Ibu tidak mau meyakiti perasaan Mia”
“ya Ibu memang menusia yang baik tapi Ibu tidak sadar Ibu sudah menghancurkan  hati Nasya dan sekarang Nasya tidak mau maaf dari Ibu, sekarang Ibu ikut dengan Nasya atau mau tunggal denga mereka. Kalau Ibu mau lihat Nasya kesepian, maka Ibu tinggallah dini. tapi jika Ibu punya sedikit saja rasa sayang, atau rasa kasian pun boleh  jika itu bisa mebuat Ibu ikut bersamaku”
“Nasya dengar Ibu baik-baik. Ibu sayang Nasya lebih dari apapun dan Ibu mohon ini yang terakhir Ibu minta Nasya ngerti Ibu”
“baiklah bu. Nasya hargai keputusan Ibu. Ohya bu Nasya Cuma mau bilang Nasya sudah menjual rumah ini jadi Ibu dan mereka sudah boleh mencari rumah lain”
“APA! Nasya kamu jangan kelewatan” ibu terlihat sangat marah.
“apa ? kelewatan. Bu, ini rumah nenek dan nenek sudah mewariskan pada Ibu dan jangan lupa Ibu sudah mengatas namakan semua harta Ibu atas namaku”
PLLAAAK!!!!!!!!!!
“Ibu menampar Nasya hanya karena Nasya mengambil hak Nasya. Ohya bu makssih tamparannya. Nasya kan tunggu Ibu di rumah. Minggu depan kalian harus pindah dari sini dan minggu depan Aku akan menyuruh sopir untuk menjemput Ibu jika Ibu pergi dengan sopir itu maka Nasya akan sangat bahagia”
Aku bergegas pegi meninggalkan Ibu yang masih menatap tangan kananya. Aku tau Ibu menyesal telah menamparku tapi hatiku sudah terlanjur sakit. Aku berjalan sambil menghapus air mataku.
“ Nasya tunggu!”
Aku berhenti saat mendengar panggilan itu karena Aku tau itu Dion. Dion orang yang paling Aku sayangi setelah Ibu dan nenek.
“kamu mau pulang sekarang?”
“ya”
“Aku antar ya”
“gak usah Aku sudah telpon sopirku untuk menjemputku disini”
Walaupun ratusan kalo Dion bilang Dia masih mencintaiku tapi hatiku masih menolak untuk bersamanya walau bagaimanapun Dia sudah menjadi hak orang lain.
“Nasya tolong jangan buat Aku semakin menyesalkan keputusanku”
“untuk apa menyesal bukankah kalian bahagia. Ohya selamat atas hamilnya Mia”
“Nasya tolong ngerti Aku. Semua ini salah kamu. Kamu yang ninggalin Aku”
“jadi kamu nyalahin Aku atas ketidaksetiaanmu. O.k baiklah anggap itu salahku tapi kenapa harus Mia bukankah masih banyak wanita diluar sana. Dan kenapa kamu harus menyiksaku dangan memperlihatkan kebahagian kalian padaku”
“Nasya semua ini tidak seperti yang kamu fikirkan, tolong dengar dulu penjelasanku”
“Aku tidak pernah memikirkan apapun tentang semua itu. Dion lepaskan tanganku Aku mau pulang sekarang dan jangan pernah muncul lagi dihadapanku”
“Nasya, kumohon jangan membenciku”
Dion memelukku dari belakang
“Aku tidak pernah membencimu. Aku tau dengan membencimu perasaanku akan semakin tersiksa dan Aku tidak mau merasakan perasaan itu lagi”
Kali ini Aku benar-benar lepas darinya. Persaanku masih berat untuk melepaskannya tapi Aku sudah terlanjur janji pada diriku sendiri bahwa aku akan menjadi wanita kuat, wanita yang tak butuh lelaki untuk menemani hidunya.


cerpenku


Minyak Wangi
Vs
 Me


“Ayra! sudah selesai tugas morfologi?” tanyaku sembari menghampiri Ayra yang sedang membaca.
“belum, Ka”
“yaaaaah, padahal aku mau pinjam tugas kamu”
Hilang sudah harapanku untuk bisa menyelesaikan tugas kuliahku hari ini.
“baca apa Ra?”
“baca majalah ni”
“coba kulihat”
Aku membolak-balik majalahnya dan mencari hal yang menarik.
“Ra, ini kayaknya menarik”
“yang mana?” ia milhat ke majalah yang aku tunjukkan. “ini” tunjukku
Perasaanku terasa risih karena Ayra menatap ku lama kemudian tertawa lepas.
“Riz, kamu gak lagi sakit kan?” ia memegang dahiku lalu bergantian memegang dahinya.
“aku sehat, kok”
“Terus, kok bisa cewek penampilan yang……dan mandi ja jarang kok bisa tertarik dengan minyak wangi. Mana yang botol ping lagi” ucap Ayra dengan nada tak percayanya. Kata-katanya membuat nyaliku menciut.
“habis, ku cium baunya wangi.tertarik mencoba”
“jadi kamu tau juga cara gunakan majalah cewek seperti ini”Ayra kembali bekata dengan nada mengejek tapi aku tak memperdulikannya aku hanya focus pada yang aku inginkan.
“Ra, aku mau yang ini, ya”
“kamu serius Ka? Mahasiswa aktivis kampus yang terkenal pemberontak dan sering berpenampilan urakan, minta pesan minyak wangi?”
“ya aku serius” ucapku enteng tanpa melihat kearahnya.
“oke, kalau kamu serius mau pakek akan ku kasih gratis buat kamu”
“tapi wangi farfum aslinya sama dengan wangi sempelnya kan?”
“ya tentulah, kamu pikir aku akan nipu kamu, gitu”
“hehehehe. Aku pegang janji kamu”

“eh, bu Tris datang”. Aku menyimanpan majalahnya Ayra lalu focus dengan Mk yang sedang dijelaskan bu Tris
..dosa kecilku...

aku bingung haru mulai dari mana. kisahku terlalu rumit dan kusut. jika bermula dengan dia maka bagaimana dengan kamu. aku tersesat di jalan setapak mengarungi sungai yang tak berjung. haruskah aku menceritakan hidupku dimulai dari kelahiranku atau atau akan memulai dari saat aku mengenal adanya rasa Cinta.
kami dipertemukan oleh tekdir. ya takdir.
ia datang dengan segudang perjanjian dan akad. banyak gadis mendambakan hal ini terjadi padanya tapi tidak denganku. kami di ikat oleh ikatan yang tak terlihat tapi membuat pengait yang tak bisa lepas.
"apakah kau menyesal ?" ia duduk di samping ranjang.
aku melirinya dari arah cermin riasku.
aku tersenuyum. " penyesalanku takkan berguna. bagiku restu orang tua yang akan menentukan kebahagia kita"
aku menatap sendu padanya.
dia seorang yang baik. hanya saja rasa itu belum tumbuh di hatiku. aku menghormati dia. aku akan melakukan tugasku.
hidup kami biasa saja. hatiku masih mengingat dia. apakah aku berdosa jika hatiku masih untuk dia yang disana. aku telah mengirim undangan ke dia tapi ai tidak datang. disudut hatiku aku menrindukannyanya.
dia ada di negri sebrang dan kami terbentur oleh restu.
ssemoga pilihanku tak salah aku mengorbankancintaku demi kebahagian orang tuaku.
"kau kejam Sya"
"maaf" aku hanya bisa menunduk. " aku tidak berdaya. ini bukan bicara kejam tapi ini bicara tentang senyuman di bibir ibuku"
"ya. demi senyuman ibumu kau mengorbankan senyuman ibuku. ia sangat menyukaimu"
kami kembali hening.
"tidak bisakah sya ini semua di gagalkan?" tanyanya.
ia terlihat sangat frustasi.
"ini bukan keputusanku. bukankah kau tau bagaimana keadaanku"
dia kembali dia. aku tau dia mengeti maksudku. aku menyakitinya sama hal aku juga menyakiti hatiku sendiri.
setetes air mata membasahi pipinya segera ia seka dan dia berdiri dari duduknya. " aku tetap tidak biasa menerima ini semua. aku harap kau akan bahagia walaupun mungkin itu akan sulit. aku tau kamu Sya. dan aku tau kamu juga tersakiti. aku pergi Sya" ucapnya sambil berjalan memunggungi. ia terus berjalan hingga akhirya ia menghilang.
aku kembali mentap foto yang tergantung didinding rumaku. ah aku salah ini rumahnya, ya dia yang sekarang imamku. dai sangat mencintaiku. aku sendiri merasa bersalah karena tidak bisa membalas cintanya.
"tidakkah anta lelah menunggu kesiapanku?" tanyaku saat ia sedang berhadapan dengan laptopnya. aku duduk di depannya.
"aku tidak akan lelah Sya. aku imammu dan aku selalu bersedia menunggumu" ia tersenyum padaku.
"aku tau anta oang yang baik dan aku akan mulai memenuhi kewajibanku padamu"
ia kembali tersenyum teduh apdaku. ia melepaskan kaca matanya. aku tau dia hampir sempurna untuk menjadi seorang Imam yang baik untukku.

Diawal terlalu manis bahkan kamu memperlakukan aku layaknya ratumu. Kamu menjadikan aku sebagia periotis dalam hidup.
Ini kali pertama kamu melakukan sesuatu yang melukaiku. Aku dulu memang salah salah tapi hukuman ini terlalu kejam untuk aku lalui. Ini terlalu menyakitkan. Aku memang belum melupakan dia.
Ini bukan kemuanku. Dia  datang kembali bukan aku yang menentukan. Bahkan aku tidak tau jika ia seseorang yang berarti bagimu.
Aku hanya bisa menangis dengan memeluk guling di ranjang yang biasanya kita pakai untuk berdua.
“hai mas. Maaf aku terlambat. Dan maaf aku tidak datang saat pernihan mas” suara itu menggetarkan hatiku. Aku belum tau siapa yang berbicara. Saat ini aku sedang makan malam dengan dia semuamiku tapi kamu di sapa orang lain.
“tidak apa Vian. Mas tau kamu sibuk dengan pendidikanmu. Ohya kenalkan ini istrima” mereka berpelukan. Awalnya aku malas untuk meihat tapi karena orang itu sedang berdiri di belakangku. Hatiku terasa aneh. Ada getaran yang tidak jelas di jantungku.
Mas Seno mengnegurku sedikit. “ eh maa…f” kata-kataku terpotong. Akhy terkejut melihat siapa yang di kenalkan oleh mas seno.
“aku vian” aku masih tak berkedip tau aku mas
ih bisa mendengar kata-katanya. “ saya Ahyana”.
Kenapa dia bersikap seakan tidak mengenaliku. Apa dia sudah melupakan semuanya tentangku. Apa aku tidak berarti baginya. Aku melihat senyuman yang di paksakan.
Aku sudah mengenalnya selama 6 tahun jadi tidak mungkin aku tidak tau tentangnya.
Diawal terlalu manis bahkan kamu memperlakukan aku layaknya ratumu. Kamu menjadikan aku sebagia periotis dalam hidup.
Ini kali pertama kamu melakukan sesuatu yang melukaiku. Aku dulu memang salah salah tapi hukuman ini terlalu kejam untuk aku lalui. Ini terlalu menyakitkan. Aku memang belum melupakan dia.
Ini bukan kemuanku. Dai datang kembali bukan aku yang menentukan. Bahkan aku tidak tau jika ia seseorang yang berarti bagimu.
Aku hanya bisa menangis dengan memeluk guling di ranjang yang biasanya kita pakai untuk berdua.
“hai mas. Maaf aku terlambat. Dan maaf aku tidak datang saat pernihan mas” suara itu menggetarkan hatiku. Aku belum tau siapa yang berbicara. Saat ini aku sedang makan malam dengan dia semuamiku tapi kamu di sapa orang lain.
“tidak apa Vian. Mas tau kamu sibuk dengan pendidikanmu. Ohya kenalkan ini istrima” mereka berpelekan. Awalnya aku malas untuk meihat tapi karena orang itu sedang berdiri di belakangku. Hatiku terasa aneh. Ada getaran yang tidak jelas di jantungku.
Mas Seno mengnegurku sedikit. “ eh maa…f” kata-kataku terpotong. Aky terkejut melihat siapa yang di kenalkan oleh mas seno.
“aku vian” aku masih tak berkedip tau aku amsih bisa mendengar kata-katanya. “ saya Ahyana”.
Kenapa dia bersikap seakan tidak mengenaliku. Apa dia sudah melupakan semuanya tentangku. Apa aku tidak berarti baginya. Aku melihat senyuman yang di paksakan.
Aku sudah mengenalnya selama 6 tahun jadi tidak mungkin aku tidak tau tentangnya.